-->
    |

Air Menyusut, 3.350 Hektare Sawah Terancam — Bupati Baharuddin Turun Langsung ke Bendungan Tanah Merah

BATU BARA – Di tengah upaya menjaga ketahanan pangan daerah, Baharuddin Siagian turun langsung meninjau pembangunan penahan tanah dan Bendungan Tanah Merah yang telah rampung dikerjakan pada 2025, di Kecamatan Air Putih, Jumat (20/2/2026).

Kunjungan itu bukan sekadar seremonial. Di hadapan hamparan bendungan yang menjadi nadi irigasi ribuan hektare sawah, Bupati Baharuddin menyaksikan langsung kondisi volume air yang mengalami penyusutan signifikan.

Ia menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui program Kementerian PUPR. Di tingkat provinsi, perbaikan Bendungan Tanah Merah juga telah dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera Utara.

Namun di lapangan, persoalan belum sepenuhnya tuntas.

Penyusutan air di Bendungan Tanah Merah terjadi akibat menurunnya aliran dari Bendungan Simanggar. Tingginya sedimentasi di aliran Sungai Simanggar menghambat suplai air menuju Bendungan Tanah Merah dan Bendungan Perkotaan. Padahal, aliran sungai tersebut selama ini menjadi sumber utama pengairan.

“Sebanyak kurang lebih 3.350 hektare lahan pertanian daerah irigasi di Kabupaten Batu Bara sangat bergantung pada aliran air dari Simanggar. Jika persoalan ini tidak segera ditangani, tentu akan berdampak langsung pada produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah,” tegas Baharuddin.

Diketahui, total luas lahan pertanian di Kabupaten Batu Bara mencapai sekitar 12.000 hektare. Sebagian besar sistem irigasinya bertumpu pada aliran Sungai Simanggar. Jika distribusi air terganggu, dampaknya bukan hanya pada hasil panen, tetapi juga pada stabilitas ekonomi para petani.

Bendungan Simanggar sendiri berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi, sehingga penanganannya memerlukan langkah lintas kewenangan. Atas kondisi ini, Bupati Batu Bara meminta jajaran PSDA Provinsi Sumatera Utara segera mengambil langkah cepat dan konkret.

Menurutnya, meski kewenangan sungai berada di tingkat provinsi, sinergi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat menjadi kunci agar kebutuhan air petani dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Peninjauan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Batu Bara Syafrizal, S.E., M.AP., Camat Air Putih, Kepala Dinas PUPR Batu Bara, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Batu Bara, serta para kepala desa se-Kecamatan Air Putih.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman krisis air, Bendungan Tanah Merah bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah harapan bagi ribuan petani — dan harapan itu kini menunggu solusi nyata. (Putra)

Komentar

Berita Terkini