-->
    |

Bupati Baharuddin: Menang atau Kalah Biasa, Syiar Al-Qur’an yang Paling Utama

Batu Bara — Malam di Lapangan Indrasakti, Kecamatan Air Putih, Sabtu (16/5/2026), terasa berbeda. Cahaya panggung memantul di wajah ribuan warga yang datang dari berbagai kecamatan. Anak-anak duduk bersila di depan arena, para orang tua bertahan hingga larut malam, sementara lantunan ayat suci Al-Qur’an terus menggema menutup rangkaian Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XIX Tingkat Kabupaten Batu Bara.

Bukan sekadar seremoni penutupan, malam itu berubah menjadi ruang pertemuan antara harapan, doa, dan kebanggaan masyarakat terhadap generasi muda pecinta Al-Qur’an.

Di tengah suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian bersama Wakil Bupati Syafrizal resmi menutup MTQ yang selama sepekan terakhir menjadi pusat perhatian masyarakat.

Sesekali tepuk tangan pecah dari tribun penonton saat nama para qari dan qariah terbaik diumumkan satu per satu. Ada wajah-wajah yang tersenyum bahagia, ada pula peserta yang menunduk haru sambil memeluk keluarga mereka. Namun malam itu, menang dan kalah terasa bukan hal utama.

“MTQ ini bukan hanya perlombaan membaca Al-Qur’an, tetapi bagaimana kita memuliakan Al-Qur’an dan menjaga syiar Islam di tengah masyarakat,” ujar Baharuddin Siagian di hadapan masyarakat yang memadati lokasi acara.

Bagi banyak orang tua yang hadir, MTQ bukan sekadar agenda tahunan pemerintah. Ajang itu menjadi kebanggaan tersendiri karena melihat anak-anak mereka tampil membawa ayat-ayat suci di atas panggung besar. Di sudut arena, beberapa ibu tampak merekam penampilan putra-putri mereka dengan telepon genggam sederhana, menyimpan momen yang mungkin akan dikenang bertahun-tahun.

Momen paling menggetarkan malam itu terjadi saat hadiah umrah diumumkan. Suasana mendadak riuh ketika enam peserta terbaik dipanggil ke atas panggung menerima hadiah perjalanan suci ke Tanah Suci.

Azzam Auliya Rabbani dari Kecamatan Lima Puluh Pesisir yang menjadi terbaik pada golongan 30 juz putra tampak tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Begitu pula Maryam At Thohiroh dari Kecamatan Sei Suka yang meraih terbaik golongan 30 juz putri. Sorak takbir dan tepuk tangan warga mengiringi langkah mereka menuju panggung kehormatan.

Pemerintah Kabupaten Batu Bara memberikan empat paket umrah gratis, ditambah dua paket umrah dari RSU Bidadari. Hadiah itu bukan hanya simbol kemenangan, tetapi juga penghargaan atas perjuangan panjang para peserta dalam menghafal, memahami, dan mencintai Al-Qur’an sejak usia muda.

Di balik kemeriahan acara, Bupati Baharuddin juga menyampaikan pesan yang lebih dalam tentang kondisi daerah dan harapan masyarakat ke depan. Ia berbicara terbuka mengenai tantangan keuangan daerah, pembangunan infrastruktur, hingga pentingnya pemerintahan yang bersih dan berintegritas.

Namun di hadapan masyarakat, ia memastikan semangat membangun Batu Bara tidak akan surut.

“Untuk kemaslahatan masyarakat Kabupaten Batu Bara, Bahar-Syafrizal tidak akan mundur,” tegasnya.

Kalimat itu langsung disambut tepuk tangan panjang warga yang memenuhi lapangan.

MTQ tahun ini juga menghadirkan banyak kisah inspiratif. Salah satunya datang dari cabang tilawah tuna netra. Di tengah keterbatasan penglihatan, para peserta tetap tampil percaya diri melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara yang menggugah hati. Penampilan mereka membuat sebagian penonton terdiam haru.

Tak sedikit warga yang bertahan hingga acara selesai, meski malam semakin larut. Anak-anak berlarian kecil di sekitar lapangan, pedagang kaki lima tetap melayani pembeli, sementara lantunan shalawat dan ucapan selamat terus terdengar dari berbagai sudut arena.

MTQ ke-XIX akhirnya resmi ditutup, namun semangat yang ditinggalkan terasa belum benar-benar selesai. Bagi masyarakat Batu Bara, malam itu bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara umum — yang akhirnya diraih Kecamatan Datuk Lima Puluh — tetapi tentang bagaimana Al-Qur’an kembali menjadi titik temu kebersamaan warga di tengah berbagai tantangan kehidupan.

Di bawah langit malam Air Putih, ribuan masyarakat pulang membawa cerita, kebanggaan, dan harapan baru bahwa syiar Al-Qur’an akan terus hidup dari generasi ke generasi di Batu Bara. (Putra)

Komentar

Berita Terkini