BATUBARA - Malam di Desa Dahari Selebar terasa berbeda. Aroma lemang yang terbakar perlahan bercampur dengan tawa masyarakat, musik rakyat, dan cahaya lampu yang menyinari lapangan desa. Di tengah suasana itu, Bupati Batu Bara H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si., melangkah mantap membuka Pesta Tapai Tahun 2026, sebuah tradisi yang telah hidup ratusan tahun di tanah Batu Bara.
Pesta Tapai yang mengusung tema “Mo Kito Ramaikan” ini bukan sekadar perayaan tahunan. Bagi Bupati Baharuddin, pesta rakyat ini adalah simbol identitas, warisan budaya, sekaligus denyut ekonomi masyarakat yang harus terus dijaga.
“Pesta Tapai bukan hanya hiburan. Ini adalah jati diri masyarakat Batu Bara yang diwariskan sejak masa kedatukan sekitar tahun 1760-an,” ujar Bupati Baharuddin dalam sambutannya, disambut tepuk tangan warga yang memadati lokasi acara.
Sebagai pemimpin daerah, Baharuddin melihat tradisi ini dari sudut pandang yang lebih luas. Ia menilai Pesta Tapai memiliki peran strategis dalam menyambut bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi ruang hidup bagi pelaku UMKM untuk menggantungkan harapan ekonomi.
Komitmen itu tidak berhenti pada seremoni. Pemerintah daerah bahkan telah melakukan promosi lintas wilayah dengan memasang baliho Pesta Tapai di Kota Medan, Deli Serdang, hingga sejumlah kabupaten/kota lainnya. Langkah ini dilakukan agar Pesta Tapai dikenal sebagai agenda budaya unggulan Batu Bara di tingkat regional.
Namun di balik semarak pesta, Baharuddin tetap menaruh perhatian pada hal-hal mendasar: kenyamanan dan keadilan bagi pengunjung. Ia secara tegas mengingatkan pentingnya penyeragaman tarif parkir dan harga lemang agar tidak ada wisatawan yang merasa dirugikan.
“Saya ingin pengunjung merasa nyaman, aman, dan senang datang ke Batu Bara. Jangan sampai citra pariwisata rusak hanya karena tarif yang tidak wajar,” tegasnya.
Nada kepemimpinan Bupati juga terasa ketika ia menyinggung persoalan keamanan wisata. Ia menyayangkan masih adanya oknum yang dinilai merusak citra daerah, termasuk tindakan menghadang wisatawan dari kapal pesiar.
Bagi Baharuddin, pariwisata bukan sekadar potensi, melainkan wajah daerah yang harus dijaga bersama.
Menjelang akhir sambutannya, suasana menjadi lebih reflektif ketika Bupati mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bersama-sama memerangi narkoba. Ia menyebut narkoba sebagai ancaman nyata yang dapat menghancurkan masa depan dan menciptakan lost generation jika tidak dilawan secara kolektif.
Selain itu, dari pantauan di lapangan, Bupati Baharuddin juga menyusuri deretan lapak UMKM, menyapa pedagang satu per satu, mendengar cerita mereka, melihat langsung dagangan di lokasi pesta tapai yang dijajakan.
Di sinilah sisi humanis seorang kepala daerah terlihat jelas. Seorang pedagang lemang mengaku penjualannya meningkat tajam.
Mendengar itu, Bupati tampak tersenyum puas. Baginya, keberhasilan Pesta Tapai bukan diukur dari gemerlap panggung, melainkan dari senyum pedagang dan roda ekonomi rakyat yang berputar lebih kencang.
Kehadiran langsung Bupati Batu Bara di tengah masyarakat menciptakan suasana hangat dan akrab. Warga merasa dihargai, didukung, dan dilibatkan secara nyata dalam pembangunan daerah.
Di malam yang penuh aroma lemang itu, Pesta Tapai kembali membuktikan dirinya bukan sekadar tradisi, tetapi ruang pertemuan antara pemimpin dan rakyat—tempat budaya dijaga, ekonomi tumbuh, dan kebersamaan dirawat. (Putra)
